PEREKONOMIAN

Ekonomi, Konsumsi dan Pemasaran Hasil Pertanian

Salah satu indikator untuk mengukur kemakmuran daerah adalah tercapainya Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB). Besaran PDRB menunjukkan tingkat produk yang dihasilkan oleh seluruh faktor produksi, besarnya laju pertumbuhan ekonomi, dan struktur perekonomian pada suatu periode di daerah tertentu sekaligus merangkum perolehan nilai tambah yang dihasilkan. Sektor pertanian dalam perekonomian Jawa Timur cukup memegang peran penting karena merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi cukup besar. Sebagai sektor primer yang membentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pertanian mempunyai tingkat produktivitas yang sangat tergantung pada kesuburan lahan dan teknologi yang ditetapkan serta kondisi iklim. Dalam perhitungan PDRB, yang termasuk dalam sub sektor tanaman pangan dan hortikultura meliputi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman pangan lainnya dan hasil-hasil produk ikutannya seperti beras tumbuk, dan gaplek.

Tabel 4.1. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur Tahun 2014 (Milyar Rupiah)

Saat ini, Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2014 ( Angka sangat sementara ) sebesar 5,86 persen mengalami penurunan sebesar 0,22 persen jika dibandingkan tahun 2014 ( Angka sementara ) yang mencapai 6,08 persen. Kontribusi PDRB subsektor tanaman pangan dan hortikultura meliputi: a) Produk meliputi penyediaan pangan bagi penduduk, penyediaan bahan baku industri makanan dan minuman; b) Pasar yaitu pembentukan pasar domestik untuk barang industri dan konsumsi; c) Faktor produksi, yaitu penurunan peranan pertanian di pembangunan ekonomi maka terjadi transfer surplus modal dan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lain; dan d) Devisa melalui ekspor produk pertanian dan produk pertanian yang menggantikan produk import.
Dalam tahun 2015, Indonesia berhadapan dengan Pasar Tunggal ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Terbentuknya pasar tunggal ASEAN semakin membuka peluang pasar. Dari segi kekuatan ekonomi, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang di dalamnya akan terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga kerja terdidik/profesional yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas di antara negara-negara ASEAN. Di Jawa Timur, pemasaran hasil pertanian terdiri : a) Pemasaran Domestik; dan b) Pemasaran Internasional. Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri diarahkan terciptanya mekanisme pasar yang berkeadilan, sistem pemasaran yang efisien dan efektif, meningkatnya posisi tawar petani/ pelaku usaha, meningkatnya pangsa pasar produk lokal di pasar domestik, dan meningkatnya konsumsi terhadap produk pertanian Indonesia, serta terpantaunya harga komoditas hasil pertanian. Sedangkan Pengembangan Pemasaran Internasional dimaksudkan untuk percepatan peningkatan ekspor hasil pertanian, baik dalam bentuk segar maupun olahan sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar produk lokal di pasar internasional dan sekaligus meningkatkan perolehan devisa negara sekaligus dimaksudkan untuk melindungi produk pertanian dalam negeri melalui kebijakan yang kondusif dan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku pada WTO.

Tabel 4.2. Konsumsi Rata-rata Beras, Jagung, Kedelai, Ubi Kayu, Bawang Merah, Cabe Merah dan Jeruk per Kapita Setahun di Indonesia, 2009-2014

Kebutuhan dasar manusia adalah pemenuhan atas pangan yang cukup, bergizi serta aman sehingga menjadi syarat utama dalam mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan. Kebutuhan pangan merupakan penjumlahan dari kebutuhan pangan untuk konsumsi langsung, kebutuhan industri dan permintaan lainnya. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat, maka kebutuhan terhadap jenis dan kualitas produk makanan juga semakin meningkat dan beragam. Ernst Engel (1857) menyatakan, apabila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk makanan menurun dengan semakin meningkatnya pendapatan. Dengan demikian akan menggambarkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Susenas, pengeluaran penduduk Indonesia untuk makanan dan non makanan sejak tahun 2007 menunjukkan pergeseran dengan persentase pengeluaran untuk makanan lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk non makanan seimbang dengan pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran penduduk Indonesia per kapita per tahun. Pangan pokok adalah makanan utama sehari-hari sesuai dengan potensi sumber daya dan kearifan lokal. Sebagian besar penduduk Jawa Timur makanan utama adalah beras. Meskipun konsumsi beras menurun, tingkat konsumsi rata-rata masyarakat Indonesia tergolong tinggi bahkan menduduki peringkat atas dunia. Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 1996 secara agregat, pola konsumsi pangan pokok di Indonesia didominasi oleh beras, bahkan di perdesaan beras telah menjadi pola pangan pokok tunggal.